Headlines News :
Home » » Geransang, Penyakit Para Koruptor

Geransang, Penyakit Para Koruptor




Tulisan ini hanya sekedar sharing, tentang penyakit yang banyak diidap orang-orang yang katanya kaya raya, tapi selalu “Geransang,” tidak pernah puas dengan apa yang sudah dimiliki dan tidak pernah bersyukur atas nikmat yang sudah diberikan-Nya, belum memiliki jabatan apa pun bisa menikmati hidup apa adanya, tapi begitu sudah menjadi pejabat, maka berubah pula prilakunya, tidak pernah cukup dengan fasilitas yang sudah diberikan, malah berusaha untuk hidup secara berlebih-lebihan dengan menghalalkan segala cara. Inilah jenis orang-orang yang terserng penyakit Geransang (selalu merasa kurang).

Budayawan dan Pengasuh Pondok Pesanteran Rodlatul Tholibin, Rembang, K.H.Musthopa Bisri meceritakan, pernah bertemu dengan seorang petani yang hidupnya pas-pasan, yang menawarkan nasi putih hanya dengan lauk pauk ikan asin dan sambal. Sehabis makan kemudian petani tersebut bersendawan kemudian disusul dengan ucapan Alhamdulillah. Hal ini jelas menunjukkan betapa nilmatnya makan meski dengan lak pauk seadanya. Nikmat itu bisa terjadi karena, petani tersebut selalu bersyukur dengan apa yang dimilikinya.

Berbeda dengan orang kaya yang bisa membeli makanan dan lauk pauk apa saja yang diinginkan, namun tidak bisa menikmati makanan, karena memiliki penyakit. Oleh karena itu diingatkan untuk tidak brsikap Lebay atau berlebihan dalam segala hal, seperti mencintai dunia secara brlebihan, termasuk juga beribadah secara berlebihan. Lakukan segala sesuatu secara wajar, sesuai dengan takaran.

Kata Gus Mus lebih lanjut, " Hidup sekedar mampir ngombe (minum)". Esensinya sama dengan yang diajarkan Islam menyiratkan bahwa hidup didunia ini hanyalah sementara, jangan disikapi secara berlebihan. (Harian Merdeka: 11/3/2012)

Bagaimana mungkin kita bisa katakan seseorang itu kaya raya kalau tidak pernh merasa cukup, padahal takaran kaya itu adalah serba berkecukupan, sementara orang yang miskin itu adalah orang yang serba kekurangan. kalau melihat illustasi cerita diatas, petani yang diceritakan Gus mus adalah orang yang kaya, karena dia senantiasa mensyukuri dengan segala yang dia miliki, sementara orang yang katanya kaya raya dan serba berkecukupan, tapi selalu merasa kurang, sehingga dengan menghalalkan segala cara untuk hidup secara berlebihan, bisa dikatakan orang yang miskin sesungguhnya, terutama miskin hati.

banyak pejabat yang tersangkut kasus korupsi sekarang ini, bisa diatakan juga mengidap penyakit Geransang ini, melakukan tindak kejahatan korupsi karena tidak pernah puas dengan apa yang sudah dimiliki, tidak pernah puas dengan semua fasilitas yang sudah diberikan, selalu ingin terlihat lebih dari pejabat lainnya, gaya hidup hedonis yang menghantui pikirannya, menyeretnya kejurang nista, dari orang yang terhormat menjadi kehilangan kehormatan juga harta bendanya karena tersangkut kasus korupsi.

Anjuran untuk senantiasa bersyukur dengan apa yang sudah dimiiki, adalah agar kita terhindar dari penyakit Gerangsang ini, agar kita tidak bersikap yang berlebihan dalam segala hal, selalu ingat bahwa hidup ini hanya sebatas ajal, tidak ada harta yang akan kita bawa kedalam kubur selain amal, kita hanya butuh harta untuk keselamatan kita didunia, bukanlah harta yang akan mendatangkan kemudharatan kita selama hidup didunia.

Guru Bapak Bangsa ini, H.O.S. Cokroaminoto mempunyai falsafah agar tidak menjadi orang yang tamak dan serakah, "Berhenti makan sebelum kenyang" falsafah ini kalau dihayati sangat mungkin untuk bisa melatih diri agar tidak menjadi orang yang tamak dan serakah, dan agar tidak serkah bisa dilatih dari cara da pola makan.

Demikianlah tulisan yang singkat ini, semoga saja ada manfaatnya.
Salam
Ajinatha

Illustrasi :by Gogle images
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. mataajinatha - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger