Tampilkan postingan dengan label prosa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label prosa. Tampilkan semua postingan

Demam Tidak Bisa Mencegah "Gairah" [Hot Story]

jpwcpffe.com



Demam Tidak Bisa Mencegah Gairah [Fever Leads to pleasure]
Ini terjadi saat saya bekerja di Timur Tengah dan masih virgin. Dimulai ketika saya membiarkan seorang teman pria tidur di tempat tidur saya karena dia sedang mengalami demam tinggi malam itu. Kami baru saja pulang makan malam bersama dengan teman-teman dan dia sudah terlihat tidak sehat untuk pulang. 
Saya membiarkan dia tidur di tempat tidur saya ketika kami mampir ke apartemen saya, sementara kami semua di ruang tamu ngobrol-ngobrol. Saya dan seorang roommate menempati sebuah apartemen one-bedroom. Akan tetapi saat semuanya pulang, saya tidak tega membangunkan dia yang tertidur lelap sehingga saya akhirnya tidur di sebelahnya. 
Tengah malam saya terbangun saat merasakan sentuhan dan pijatan menggairahkan di daerah-daerah intim saya. Ternyata tangan teman saya ini sudah menjelajahi tubuh saya. Tiba-tiba saya ingin make love saat itu juga. Hal yang menegangkan adalah roommate saya sedang tidur di tempat tidurnya sendiri tidak jauh dari kami yang sedang melakukannya dengan perlahan karena itu adalah pertama kali penetrasi bagi saya. 
Saya juga mencoba untuk tidak membuat suara gaduh yang bisa membangunkan roommate saya itu. Dia melakukannya dari belakang dan rasanya sangat menakjubkan. Itu bukan yang pertama dan terakhir bagi kami. Kami bertiga sering berada di apartemen bersama, dan saya dan pacar saya sering melakukannya bahkan ketika roommate saya sedang berada di rumah atau di kamar bersama kami. 
Suatu kali, kami pernah melakukan quickie saat orang tua saya sedang berkunjung dan mereka berada di ruang tamu. Kami sering nonton TV bersama dengan teman-teman tetapi tetap saling meraba di bawah selimut. Kemungkinan kami “tertangkap basah” adalah salah satu faktor yang menyenangkan.
CB, via e-mail
(foto: jpwcoffee.com)

Sumber: FHM Indonesia Edisi Agustus 2012

8 Tahun Aku Diperkosa [Hot Story]

illustrasi : Megapolitan Kompas



Selama delapan tahun aku terus diperkosa pamanku, kenapa bisa demikian ? Baiklah aku akan mulai kisahku ini dari delapan tahun silam.

Saat itu aku masih berusia 8 tahun, suatu hari aku diajak paman keladang untuk menemaninya, dengan segala keluguanku, Sama sekali aku tidak merasa curiga, karena aku masih terlalu kecil, Dan belum mengerti apa-apa.

Sampai ditengah sawah paman mengajakku untuk istirahat disaung, aku tetap tidak punya kecurigaan apa-apa, tapi betapa kagetnya aku, ketika paman memaksa Dan memperkosaku, aku begitu sedih, aku merasa sakit yang teramat sangat. Sejak itulah aku terus diperkosa selama 8 tahun, kenapa aku Katakan demikian, karena aku memang tidak pernah mau, sehingga hanya karena takut, aku cuma bisa pasrah. Perasaan sakit hati, benci semua menjadi satu tanpa bisa aku elakkan Sama sekali, selama itu pula aku selalu dalam perasaan yang tertekan dan dalam 1 minggu, aku bisa mengalami 2 kali perkosaan.

Ingin aku mengadu pada kedua orang tuaku tapi aku tidak berani, aku takut orang tuaku tambah terpukul lagi, kami memang tinggal menumpang Sama paman, ayah Dan ibuku merupakan buruh Tani paman, dengan kehidupan ekonomi yang serba terbatas, makanya kami tidak bisa melepaskan ketergantungan hidup Sama paman.

Sekarang usiaku sudah 16 tahun, aku tumbuh menjadi Gadis yang terbilang cukup cantik, tapi agak kurang dalam pergaulan, trauma perkosaan itu membuat aku menjadi Gadis yang tertutup Dan agak minder dalam pergaulan.

Beberapa hari lagi kata ayahku, Ada pemuda yang ingin melamarku, seharusnya aku senang mendengar kabar ini, tapi aku malah jadi penuh ketakutan, aku takut paman jadi marah Dan mengusir kami dari rumahnya, selain itu juga aku takut kalau suamiku kelak tahu kalau aku sudah tidak perawan lagi. Berbagai perasaan berkecamuk didalam dadaku, suatu hari aku ceritakan Sama paman tentang rencana lamaran tersebut, paman begitu marah, dia bilang : “Mana Ada laki-laki yang mau menikahi wanita yang sudah tidak perawan ” Aku begitu terpukul dengan ucapan paman tersebut, aku cuma bisa terdiam, hari itu dia kembali memperkosaku, itulah terakhir kali dia memperkosaku.

Sampailah hari lamaran itu tiba, semua keluarga kumpul dirumah paman, tapi paman tidak ikut hadir pada acara lamaran tersebut, aku juga tidak tahu apa yang menyebabkan paman tidak hadir, tapi bibi Dan anak-anaknya ikut hadir.

Saat itu aku begitu tertekan, berbagai perasaan takut itu kembali menghantuiku, terbayang perlakuan bejat paman sehingga aku begitu sedih dan tertekan, saat itu semua mata tertuju padaku, tiba-tiba aku histeris sambil terus menangis, semua yang ada diruangan itu panik melihatku, aku lari menghambur kepangkuan ibu, sambil terus menangis, dengan lembut ibu mengusap rambutku sambil menangis…
“Ada apa nduk…kok kamu menangis..seharusnya kamu itu senang kalau ada yang mau melamar kamu”
aku merasa begitu sejuk dibersujud dipangkuan ibu.
“Aku senang bu…tapi aku malu…”
“Malu kenapa nduk…apa karena calon suamimu lebih tua dari kamu…gak papa toh…yang penting dia sayang sama kamu…”
“Bukan karena itu bu…aku sedih dan takut karena….”
“Karena apa nduk…ayo ngomong…biar semua pada tahu…”
” Aku malu dan takut karena…aku sudah gak perawan bu…aku sudah diperkosa sama paman….”
Mendengar semua pengakuanku itu, semua tamu yang hadir didalam ruangan itu geger, terutama bibiku, dia begitu kaget hampir tidak percaya, dan langsung meninggalkan ruangan, begitu juga dengan anak-anaknya.

Aku cuma bisa pasrah setelah mengakui semua itu, apakah calon suamiku mau menerimaku atau tidak aku tidak hiraukan lagi. Tapi diluar dugaanku, calon suamiku tetap mau menerimaku apa adanya, dia juga merasa tambah kasihan melihat nasibku.

Hari itu juga paman langsung ditangkap polisi, karena ayahku langsung pergi melapor kekantor polisi, yang paling terpukul adalah ibu, karena dia tidak menyangka sama sekali kalau adiknya tega memperlakukan anaknya seperti itu.

Pernikahankupun di percepat, setelah pernikahan, aku dan kedua orang tuaku serta adik-adik, diboyong suami kerumahnya, sungguh aku merasa bahagia sekali, karena suamiku begitu mencintaiku.
cerita ini terinsfirasi oleh kisah nyata yang diberitakan Kompas.com yang berjudul ” 8 tahun aku diperkosa pamanku” (kalau tidak salah”
Semoga kisah ini bisa diambil manfaatnya, Dan bisa menjadi pelajaran yang berharga, juga agar kita bisa mengawasi anak-anak kita.

A Can't Miss Visit [Hot Story]






Beberapa tahun lalu saya sedang berada di Jakarta saat liburan hari besar untuk mengunjungi dan berkumpul dengan keluarga. Saya kebetulan bekerja di luar negeri. Setiap kali saya pulang, saya juga sering berkumpul dengan teman-teman eks SMA dan biasanya kami pergi clubbing bersama.

Akan tetapi kali ini, salah seorang teman kelas pria yang saya sukai sewaktu di sekolah dulu, menawarkan untuk menjemput saya untuk pergi ke club yang telah kami setujui. Setelah beberapa waktu di club itu, suasana menjadi panas dalam arti yang sebenarnya dan juga dalam arti kiasan. 

Setelah beberapa gelas tequila dan bir, saya akhirnya berdansa jarak dekat dengan pria ini. Tubuh kami saling menempel dan wajah kami hanya berjarak beberapa centimeter saja. 

Tidak tahan dengan situasi “panas” tersebut, kami memutuskan untuk menyelinap keluar meninggalkan teman-teman lain yang juga sudah tipsy, menuju apartemennya. 

Setelah kami sampai di sana, dia langsung mendaratkan sebuah ciuman liar di bibir saya, yang membuat saya sangat turn-on

Dia mengangkat saya sambil tetap menempelkan bibirnya di bibir saya, dan kami menuju kamar tidur. Di tempat tidur, dia dengan cepat melepaskan celana jins dan panties saya, dan dia memberikan servis oral yang luar biasa. 

Pengaruh alkohol membuat saya tidak lama orgasme dengan suara lantang. Setelah itu kami make love sampai kami berdua juga klimaks, dan saya untuk kedua kalinya. Setelah itu kami menghabiskan malam panjang itu berpelukan di tempat tidur. Setiap tahun jika saya pulang ke Jakarta, saya pastikan untuk mengunjungi dia untuk sebuah kunjungan yang tidak terlupakan.

Sumber tulisan : Majalah FHM (Rose, via e-mail) 
(Foto: Getty Images)

Namaku Katini..




Namaku memanglah Kartini, tapi nasibku tidaklah sebaik RA Kartini yang aku kagumi itu, padahal sewaktu kecil aku ingin sekali menjadi seorang Kartini..karena menyandang nama Kartini, aku harus memiliki kepribadian seperti Kartini, tapi takdirku berkata lain..aku ternista oleh ayah kandungku sendiri, aku menjadi wanita simpanan ayahku sendiri.

Berawal dari kepergian Ibu untuk menjadi TKW disebuah negara yang makmur, bagi kami kepergian ibu adalah sebuah harapan akan perubahan hidup, namun kepergian ibu ini pula menjadi awal musibah bagi diriku. Aku tidak pernah berpikir kalau suatu saat aku akan menerima perlakuan buruk oleh ayah kandungku yang bejat itu.

Tiga bulan setelah kepergian Ibu, ayah mulai memperlihatkan kelakuan yang aneh terhadapku, berkali-kali ayah mengajakku untuk tidur satu kamar dengannya, dengan alasan karena tidak tega melihatku tidur satu ranjang yang sempit dengan tiga orang adikku, tapi permintaannya selalu aku tolak secara halus. Namun pada malam yang naas, aku diseret ayah kekamarnya dan aku di pukuli sehingga aku pingsan.

Keesokan harinya saat aku terbangun, aku kaget karena aku dalam keadaan tanpa busana, dan disampingku ayah juga begitu..ingin aku berteriak saat itu, aku hanya teringat saat ayah memukulku, aku sangat terpukul dengan semua keadaan itu. Sejak saat itu bayangan suram masa depanku sudah mulai terlihat, aku selalu diawasi ayah..aku tidak dikasih untuk sekolah lagi, sehari-hariku hanya memuaskan nafsu ayah..aku tak berdaya.

Semua peristiwa yang aku alami, aku tulis dalam sebuah buku..ya buku itulah yang menjadi tempat aku mencurahkan semua isi hati, aku sudah sangat muak dengan semua kondisi yang ada. Ayah yang sehari-hari tidak bekerja, hanya hidup dari uang kiriman Ibu..Aku merasa bersalah sama ibu, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa.

Satu bulan setelah Malam Jahanam itu, aku merasakan sesuatu yang aneh dengan dengan tubuhku, aku sering sekali muntah-muntah, mengetahui hal itu, ayah mulai cemas, aku pikir dia akan menghentikan perbuatan laknatnya padaku, namun ternyata tidak, ayah mengasingkanku kerumah kontrakan yang cukup jauh dari rumah kami, karena ayah kuatir tetangga pada tahu kalau aku hamil.

Dirumah kontrakan ini aku hidup sendirian, pintu bisa terbuka hanya saat ayah datang saja, selebihnya aku terkurung dirumah kontrakan tersebut, semua pintu dikunci dari luar, kalau pun keluar dari kontrakan, hanya saat aku mau periksa kandungan yang semakin hari semakin membesar, itu pun didampingi ayah. Hidup ku selalu dalam pengawasannya, aku benar-benar sudah seperti wanita simpanan ayah.

Suatu hari aku dikagetkan dengan kedatangan Ibu dikontrakan, ibu datang bersama ayah..begitu melihatku, ibu langsung menangis..aku berusaha untuk sujud dikaki ibu, tapi ibu langsung memelukku:
"Kamu gak perlu bersujud nak..ibu sudah tahu semua apa yang telah kamu alami..ibu sudah baca semua apa yang kamu tuliskan dalam buku itu.."

Sungguh semua diluar dugaanku, aku pikir ibu akan marah besar padaku, tapi sebaliknya..dengan penuh penyesalan mengatakan padaku, bahwa sangat menyesal sudah meninggalkanku hanya untuk menjadi TKW, tapi semua sudah terjadi. Selama kehamilanku, ibu selalu merawatku, ibupun memutuskan untuk berpisah sama ayah, dengan sisa-sisa uang yang dia miliki, ibu pun membuka usaha warung nasi, sehingga tidak lagi menjadi TKW diluar negeri.

Inilah sekelumit kisah Kartini yang bukan RA Kartini, yang banyak terjadi disekitar kita, semoga saja kisah ini bisa diambil hikmah dan manfaatnya. Kisah ini hanyalah fiksi belaka, kalau ada kemiripan baik cerita mau pun nama tokohnya, bukanlah sesuatu yang disengaja, ini hanyalah kisah rekaan berdasarkan peristiwa nyata.

Ini Bukan Geng Motor Biasa [Pengakuan Suparman]



Entah kenapa ulah geng motor akhir-akhir ini mengundang sejuta tanda tanya didalam benakku, ini bukan dugaan..tapi aku yakin ini bukanlah Geng motor Biasa. Karena aku melihat dan aku membaca pada media berita, Geng Motor ini seakan serentak melakukan keonaran di setiap daerah, keonaran yang mereka lakukan bukan lagi dalam batas yang wajar, aksi pengrusakan yang mereka lakukan tergolong brutal, adakah ini suatu kesengajaan untuk mencuri perhatian, digerakkan dalam satu skenario yang bersamaan.

Apa pun itu..kebiadaban yang mereka lakukan tidak lagi berprikemanusiaan, kalau ada yang mengatakan mereka melakukan sesuatu sebagai bentuk mencari keadilan, tapi mencari keadilan dengan cara-cara yang tidak adil, tidaklah dibenarkan, apalagi membuat pengadilan jalanan. Ini negara hukum kataku, tapi aku juga bertanya dalam hati, apa benar negara ini negara hukum ? Kalaulah benar negara hukum, kenapa hukum tidak ditegakkan, kalau pun ditegakkan, untuk siapa hukum itu ditegakkan, karena aku lihat...banyak sekali keadilan tidak ditegakkan, hukum hanya tegak bagi rakyat kebanyakan, tapi tidak bagi orang-orang yang memiliki uang dan kekuasaan.

Negara ini ada aparat keamanan yang bertanggung jawab terhadap kenyamanan dan rasa aman masyarakat, namun ketika setiap peristiwa penghakiman dijalanan yang dilakukan Geng motor, dimana aparat keamanan..kenapa mereka datang disaat situasi sudah dinyatakan aman...aku benar-benar tidak habis pikir,rakyat yang menjadi korban tidak tahu apa yang harus mereka lakukan, mengadukan kemalangan pada aparat keamanan hanya akan mendatangkan kemalangan yang lainnya. Sikap apatisme masyarakat tidak bisa dibiarkan, masyarakat harus mendapatkan rasa aman dan kenyamanan didalam negara yag katanya adem ayem dan tenteram.

Kalau aja aku adalah Superman atau pun Spiderman, akan kubasmi setiap kejahatan, tapi sayangnya aku hanyalah seorang Suparman, rakyat biasa yang tiada berdaya menghadapi setiap penindasan dan kedzoliman dinegara yang katanya Gemah ripah loh jinawi ini. Ingin aku berontak dan berteriak agar apa yang aku rasakan adalah juga penderitaan yang harus didengar orang-orang yang seharusnya mendengarkan...tapi sayangnya berteriak saja aku tidak berani, apa lagi mau memeberontak...aku hanya rakyat biasa yang tidak mampu membeli mahalnya rasa aman.

Aku sangat berkeyakinan..Geng motor yang teru s membuat keonaran, bukanlah geng Motor Biasa, mereka  digembala dan terpelihara oleh sebuah kekuatan yang tidak tersentuh hukum yang memang sudah lumpuh..dan aku yakin dan seyakin-yakinnya, Geng motor ini terkodinasi, dalam setiap prilaku dan tindak kejahatan yang mereka lakukan terus terpantau, dan dianggap sudah sesuai dengan apa yang diinginkan. modus dan prilaku ini bukanlah baru, hanya saja pola yang dipakai disesuaikan dengan kondisi kekinian. Coba bika mata dan pasang telinga, setiapa tindakan yang mereka lakukan selalu hampir bersamaan dengan daerah-daerah lainnya.

Foto illustrasi : Okezone.com

Dengan Seragam Militer untuk Tugas Sipil




Ini merupakan pengalaman saya yang terjadi sekitar 15 tahun yang lalu, dimana saat itu rumah mertua saya didatangi aparat militer darisebuah kesatuan TNI, dia datang sendiri dengan pakaian dinas lengkap. Saya baru pulang kerja setelah hampir 24 jam non stop. Jam menunjukkan pukul 18.30 WIB, tentu saja saya kaget karena saya tidak pernah merasa sudah melakukan sebuah tindak kejahatan. Begitu saya masuk aparat tersebut langsung menghardik saya:
“Anda harus ikut saya malam ini ke rumah Pak Tauhid ” katanya sambilmembanting pistolnya diatas meja.
Mendengar dia menyebutkan nama Pak Tauhid rekanan kerja saya, maka saya jadi mengerti persoalannya. saya jawab permintaannya dengan kondisi yang masih tenang,
“Saya baru pulang…dan saya belum tidur sama sekali pak..”
“Tidak bisa…Anda harus ikut saya malam ini juga…”
“Kalau bapak paksa saya juga…matipun saya hadapi sekarang ini, kalo bapak tembakpun kepala saya akan tetap tidak mau….tapi kalau besok pagi saya siap..jam berapapun bapak mau…”
Diapun akhirnya mau menerima permintaan saya, dan sudah mulai sedikit melunak. Sayapun seakan mendapat celah untuk mulai mendikte aparat tersebut, saya minta sama dia agar tidak datang dengan pakai dinasnya.
“Ada satu permintaan saya pak…saya ingin besok bapak jemput saya tidak dengan pakaian dinas…karena saya tidak ingin dicap penduduk sekitar rumah saya, bahwa saya diciduk aparat…toh bapak kan sedang melaksanakan tugas sipil…”
Dia begitu kaget ketika saya bilang sedang melaksanakan tugas sipil, sementara pakaiannya dinas militer.Inilah yang kadang salah kaprah di republik ini. Aparat militer hidup jadi beking pengusaha.
“Lho tapi saya tidak bisa begitu melepaskan baju dinas saya…”
“Saya cuma minta bapak melepaskan atributnya saja…baju luarnya bapak simpan, begitu juga pistoldan tanda pangkat…bapak pakai kaos dalam dan celana juga sepatunya aja…”
—-
Jam 7 pagi dia datang, saya sudah menunggu dari jam 6.30. Dia datang sesuai dengan kostum yang sudah saya pesan. Kamipun akhirnya jalan naik mobil yang sudah disiapkan untuk menjemput saya, menuju kearah Jakarta Selatan. Dalam perjalanan saya mulai menakar kesetiaannya pada pak Tauhid.
“Pak Yasmin…kok selama saya kerjasama dengan pak Tauhid belum pernah melihat Bapak…”
“Ya saya baru diminta sama beliau ketika disuruh menjemput Anda saja…”
“Lho tapi  bapakkan militer…kok bisa untuk tugas sipil seperti ini..dalam jam kerja aktif lagi..”
“Saya cuma diperbantukan saja…”
“Diperbantukan gimana…pak Tauhid itu bukan pengusaha swasta..jadi gak ada hubungannya dengan tugas militer pak..”
Aganya dia mulai terpojok dengan pertanyaan saya, diapun semakin melunak dan tidak segarang kemarin waktu dirumah.
“Itulah bedanya bapak dengan saya…kalau bapak pangkatnya yang dipakai sama pak Tauhid, kalau saya otak saya yang dipaki sama dia…sekarang ini dia sedang salah faham sama saya, tapi sudah mengancam saya dengan mengirimkan aparat…karena saya tidak salah, makanya saya tidak takut…”
Akhirnya dalam perjalanan itu kami hanya diam saja sampai di rumah pak tauhid. Dan sesampainya dirumah pak Tauhid saya langsung temui dia.
“Pak Tauhid…maaf  ya…masalah kita adalah masalah bisnis dan sifatnya  kerjasama..terus terang saya keberatan kalau bapak mengirim aparta militer kerumah saya..hanya untuk urusan seperti ini..”
“Sory aji…saya gak bermaksud seperti itu…dia cuma bantu saya saja, kebetulan lagi gak ada orang yang disuruh untuk menjemput kamu…”
“Udahlah pak….saya ngerti..bapak cuma mau menunjukkan sama saya, bahwa bapak bisa bayar aparat militer kalau saya  coba macam-macam…gitu kan..”
Akhirnya apa yang menjadi masalah dan tanggung jawab saya sebagai rekanan bisnis saya selesaikan, karena saya sudah mulai muak dengan cara kerjasama orang kaya baru ini. Menjelang akhir ramadhan, seemua pekerjaan tersebut tuntas, setelah selama 6 bulan saya kerjakan.
Suatu hari pak yasmin mendatangi saya, tapi sudah tidak datang dengan pakaian militer. Saya ajak dia keruang kerja saya, lalu diapun bercerita tentang nasibnya.
“Wah aji benar….setelah saya pengsiun, pak tauhid pecat saya…”
“Ya iyalah pak…yang dia lihat dari bapakkan hanya pangkatnya….lain halnya dengan saya, dia butuh otak saya untuk menjalankan bisnisnya…”
Lalu saya juga merasa iba melihat keadaan pak yasmin, saya sisipkan amplop buat THR nya, diapun menerima dengan senang hati, karena tujuannya menemuin saya memang untuk meminta THR katanya…
Semoga saja yang Militer tetaplah bertugas sebagai militer, tidak memanfaatkan pangkat dan jabatan untuk tugas-tugas diluar tugas dan jabatan militer.


Illustrasi foto : Google images

Ayahku Bukan PKI...




Tahun 1967 disebuah Sekolah Dasar Negeri di kota Jambi, serombongan anak-anak sekolah sedang meneriaki temannya..

“Anak PKI..Anak PKI..Anak PKI…..”
“Ayahku bukan PKI…ayahku orang baik-baik..huhuhuhuhu…

Aris yang diteriaki terus berjalan menghindari anak-anak yang meneriakinya dan sambil terus menangis disepanjang jalan. Langit mendung seketika menggantung hujan, anak itu terus berlari menyesali nasibnya yang dicap sebagai anak PKI. Wajah-wajah iba menatap namun tidaklah bisa berbuat apa-apa, takut menyapa takut pula diduga sebagai bagian dari orang-orang yang sudah tersia-sia.
___
Aris Masih terus menangis memasuki sebuah rumah yang sepi..seorang ibu yang tengah memnyusui bayi mendadak sedih melihat anaknya yang datang tiba-tiba dengan menangis dengan pilu.
“Kenapa kamu menangis nak…kamu dibilang anak PKI lagi ya…kamu harus kuat nak..ayahmu bukanlah PKI..”
“Ya ibu…tapi sampai kapan aku bisa tahan…huhuhuhu…”
Aris terus menangis, dia tidak tahu bagaimana harus menghentikan tangisnya, dia begitu sakit..karena dia sangat tahu ayahnya adalah orang baik-baik, bahkan sesungguhnya dia tidak pernah mengerti apa artinya PKI.
“Tunggulah nak…nanti ayahmu juga dibebaskan..karena ibu sangat tahu siapa ayahmu…”
“Terus kenapa mereka gak tahu kalau ayah bukanlah PKI….”
“Mereka bukan gak tahu nak…mereka terpaksa harus bilang ayahmu PKI..itu karena kakekmu pun juga dituduh begitu…”
___
Hujan turun sangat perlahan, malam hanya terisi gemercik hujan, dalam sebuah rumah bedeng (Rumah Petak) satu keluarga kecil sedang siap-siap menuju kepembaringan. Ketukan pintu yang terdengar sangat kasar membangunkan mereka seketika. Amran bergerak menghampiri pintu.
“Buka pintunya…”
“Ya sebentar…siapa ya…”
“Tidak penting siapa…buka saja pintunya..”
Betapa kagetnya Amran begitu pintu terbuka, dihadapannya beberapa orang berseragam loreng dengan menghunus senjata langsung menyentaknya..
“Kamu Amran kan….ayo segera ikut kami ke Markas…”
“Lho salah saya apa pak..”
“Nanti saja dijelaskan…sekarang kamu ikut saja dulu…”
“Tapi…sebentar pak…saya harus pamit dulu sama anak dan istri saya…”
Itulah awalnya Amran dibawa aparat, sementara dia sama sekali tidak pernah tahu apa salahnya. Semua berjalan begitu cepat dan Amran hanya menerima kesalahan tanpa pernah tahu apa kesalahannya. Tuduhan terakhir yang dia terima adalah terlibat dalam Gerakan PKI, sementara dia sendiri tidak pernah merasa bersentuhan dengan partai terlarang tersebut.
____
Sampai Republik ini berganti rezim, Aris tidak pernah tahu ayahnya dimana. Dengan bersusah payah ibunya membersar Aris dan adiknya, sampailah Aris menginjak dewasa..Aris tetap saja tidak pernah tahu dimana Ayahnya berada, masih hidup atau sudah tak bernyawa lagi tetap saja tiada kabar beritanya. Kini Aris sudah berkeluarga begitu juga dengan adiknya.

Maaf...Aku Meniduri Istrimu....






Maaf.. Aku meniduri Istrimu


Skandal sex 2 orang sahabat karib ini sangat tertutup rapat tidak diketahui masyarakat umum, maklum saja mereka merupakan pejabat penting didaerah propinsi, Danu (nama samaran) adalah seorang wali kota, sudah beristeri dengan 3 orang anak yang masih remaja, dan Rony (juga nama samaran) seorang Sekwilda masih lajang walau usianya sudah mendekati kepala empat.

Mereka ini bersahabat sejak mereka masih  kuliah di jakarta, Rony sering bertandang kerumah Danu, baik ketika Danu ada di rumah maupun ketika Danu sedang tidak dirumah, tidak pernah ada yang mencurigai adanya hubungan Rony dan isteri Danu, didepan anak-anak Danu Rony bersikap layaknya seorang Paman yang baik, tapi tanpa sepengetahuan anak-anak Danu, Rony sering meyelinap kedalam kamar Danu, menyambangi Isteri Danu yang memang selalu siap menanti kedatangan Rony, sejak muda Rony memang sudah terkenal Play Boy dan gonta ganti pasangan, inilah yang menyebabkan dia agak telat menikah, dan sejak Danu pacaran sama evi (isteri Danu), Rony sudah naksir juga sama evi, karena evi perempuan yang sangat cantik, sexy dan tergolong agak centil, sehingga sangat menarik hati lawan jenisnya.

Danu sendiri sebetulnya bukanlah suami yang baik juga, diam-diam dia juga memiliki selingkuhan seorang wanita keturunan yang masih muda dan cantik bernama Meylan, Meylan di tempatkan Danu pada sebuah Rumah Kontrakan di tempat yang agak terpencil, sehingga tidak banyak diketahui orang.

Hampir setiap hari Rony dan Evi isteri Danu melakukan kencan di kamar danu, disaat Danu pergi ke kantor dan anak-anak Danu pergi ke Sekolah, tidak seorangpun yang mengetahui kejadian ini, sampai suatu ketika Rony ingin meng akhiri hubungannya dengan Evi, timbul kesadaran dalam diri Rony, bahwa apa yang dilakukannya selama ini adalah perbuatan yang salah, ingin berterus terang sama Danu tapi itu suatu hal yang tidak mungkin, karena Danu bagi Rony bukan hanya sebagai sahabat, tapi sudah lebih dari itu, rahasia Danu banyak diketahui oleh Rony, demikian juga sebaliknya, hanya hubungan Rony dengan evi saja yang tidak diketahui Danu.

Suatu ketika Rony menemukan Jodohnya, semakin kuatlah niatnya untuk mengakhiri hubungan asmaranya dengan Evi, dia kemukakan keinginannya tersebut sama Evi, Evi marah besar pada Rony ;

“Rony jika kamu akhiri hubungan kita ini, akau akan buka semua rahasia ini pada Danu” ancam Evi pada Rony.

Tapi Rony tetap ingin mengakhiri hubungan gelap tersebut tanpa perduli ancaman Evi, dengan perasaan yang sangat tegang dia ajak Danu untuk berbicara empat mata, dia sudah siap menghadapi segala macam resiko atas ketrus terangannya pada Danu, Rony berpikir lebih baik Danu Tahu semua masalah ini dari mulutnya sendiri sebelum evi menceritakannya pada Danu.

Rony menemui Danu disebuah tempat yang sepi, seperti yang sudah mereka tentukan berdua, dengan perasaan yang serba salah dia ceritakan semua yang sudah terjadi;

“Dan…aku ingin mengatakan sesuatu yang sudah aku rahasiakan selama ini dari kamu, aku harap kamu tidak marah dan kecewa sama aku “

“ Soal apa ini…kok kamu sampai serius gitu Ron…kita inikan sudah bersahabat cukup lama, jadi ga ada yang perlu dirahasiakan lagi…katakan saja…aku siap mendengar kok..”

“Begini Dan…sebelumnya aku mau minta maaf “

“Minta maaf untuk apa….aku benar-benar gak ngerti nih…”

“Maaf dan…selama ini aku sudah meniduri istreri kamu”

Diluar dugaan Rony, Danu hanya hanya tersenyum mendengar keterus terangan rony,

“Ron..Justeru aku semestinya berterima kasih sama kamu, karena aku memang suami yang tidak mampu keinginan sex evi yang sudah berlebihan itu, itu terjadi sejak anakku yang kedua lahir, makanya aku kasih ide agar dia mendekati kamu, karena aku tahu dia masih cinta sama kamu, bukankah itu lebih baik…daripada dia berhubungan dengan laki-laki lain, kita ini Pejabat ron….

Rony hanya terdiam tidak bisa berkata apa-apa…

“Satu hal yang perlu kamu ketahui ron….sebaiknya kamu batalkan pernikahan kamu sama Meylan, karena Meylan bukanlah wanita yang baik-baik, buktinya dia mau tidur dengan aku selama ini, padahal kamu adalah calon suaminya…”

Memilih Kucing dalam Karung

Sebuah poster yang diterbitkan oleh Komite Indonesia 2014, sangat sejalan dengan pemikiran yang saya tuangkan dalam Puisi yang pernah saya posting di Kompasiana satu bulan yang lalu. Poster ini memberikan pesan yang sama dengan puisi saya, agar kita lebih hati-hati dalam memilih, baik dalam Pemilu Legislatif maupun Pemilu Eksekutif. "Jangan Pilih Kucing Dalam Karung." Pesan yang disampaikan oleh poster ini sangatlah pas dengan kondisi sekarang ini. Selama ini sepertinya kita selalu salah dalam memilih, terutama pada Pemilu Legislatif, kita tidak pernah tahu siapa yang kita pilih sebenarnya. Sekalipun kita tahu/kenal orangnya, tapi sesungguhnya kita tidak kenal seperti apa karakter dan pribadi orang yang kita pilih.

Seperti yang pernah saya tuliskan dalam puisi saya yang berjudul "Kucing Dalam Karung" dibawah ini:

Oleh: Ajinatha | 09 April 2011 |

Setiap saat kita dihadapkan
Pada sebuah pilihan yang tidak perlu
Kita pilih, tapi bukanlah pilihan
Yang sulit, tapi juga tidak mudah
Menjadi mudah kalau kita
Tidak memilih

Memilih sesuatu yang tidak
Terlihat, namun harus memilih
Karena keharusan konstitusional
Sama halnya dengan
Memilih kucing dalam karung
Itulah yang selalu kita hadapi

Situasi ini tidak akan berubah
Kalau tidak ada keinginan
Untuk merubahnya, tapi
Merubahnya bukanlah hal
Yang mudah, tapi tidak juga
Berarti sulit

Kita pemilik kebebasan
Pemilik setiap pilihan
Tidak satupun yang dapat
Memaksakan keinginannya
Merampas kemerdekaan kita
Dalam menentukan pilihan
Cuma ada dua pilihan
Memilih atau tidak memilih


Ada kesamaan visi dan misi antara poster tersebut diatas dengan puisi saya, rendahnya tingkat kepercayaan terhadap Partai Politik juga pada Anggota Legislatif, membuat kita menjadi skeptis terhadap Pemilu (Pesta Demokrasi), bahkan cenderung untuk apriori terhadap pelaksanaan Pemilu. Karena pola pendekatan Partai Politik yang cenderung mengumbar janji di saat perlu, dan melupakan konstituen setelah Pemilu.

Apakah Pemilu 2014 yang akan datang masih disambut dengan gegap gempita oleh masyarakat Indonesia secara umum ? Ya kita lihat saja bagaimana sikap masyarakat menghadapi Pemilu 2014 nanti.

Jakarta, 4 Mei 2011

Salam
A j i n a t h a

Hidup Yang Dihidupkan

Hidup adalah menggembala diri, sambil terus meniti sebuah rentang jalan pada tujuan yang pasti. Rentang jalan yang lurus, bukanlah jalan yang tak berujung, jalan yang memang sudah ditentukan, dan itu satu-satunya jalan yang di Ridhoi.

Pada kaharusannya, hidup tidaklah harus memilih, karena jalannya sudah ditentukan. Kalau sampai memilih itu bukanlah ketentuan. Hidup karena dihidupkan bukanlah karena ada dengan sendirinya. Ada yang mengatur hidup dan kematian.

Kalau sampai salah jalan itu semua karena kita yang membuat pilihan, dan itu tidak sesuai dengan yang sudah ditentukan. Kenapa harus ditanya siapa yang sudah menciptakan, karena pertanyaan itulah yang merusak keyakinan. Cukup rasakan keberadaannya, dari cara dia mengatur hidup dan kematian, dari ada dan ketiadaan.

Dari setiap pergantian pada semesta raya, bukanlah sekedar pergantian biasa, bukan juga sekedar perputaran pada sumbunya, tetaplah semua itu ada yang mengaturnya.

Kitalah penggembala diri kita sendiri, tapi kita tidaklah berkuasa atasnya. Tetaplah dibawah pengawasan dan tuntunan-Nya, karena kita memang bukanlah apa-apa, kita hanya bagian dari ciptaannya. Kepadanyalah kita patut menghamba dan kepadanyalah pula kita layangkan puji dan puja.

Kepintaran yang kita miliki adalah anugerah-Nya, tidak semata terlahir begitu saja. Diberikan pengetahuan semata hanya untuk mengenal-Nya dan semua kekuatan dan kekuasaan-Nya. Mengenal isi dunia inipun semata untuk mengenal semua kemahakuasaan-Nya. Lantas apa yang membuat kita merasa begitu jumawa, seakan kita bisa terlahir dengan sendirinya. Hanya iblis yang menyesatkan bukanlah Tuhan. Kalau tergelincir kejalan yang sesat, itu bukanlah kehendak-Nya, itulah pilihan jalan diluar dari yang sudah ditentukan.

SIAPA YANG MENIDURI RANJANGKU

Ranjang itu memang kubiarkan sepi tapi kini ada yang meniduri aku hanya tahu dari bekas, bekas yang meninggalkan aroma yang berbeda yang tak pernah aku jumpa aku sudah cari tahu siapa yang meniduri ranjangku tak satupun orang yang tahu tidak juga bekas suamiku apalagi anak ku ada diluar kota juga kota yang berbeda jauh diluar sana. sudah lama ranjang itu tak lagi kutempati tapi tiba-tiba aku merasa ada bekas jejak yang menempati.


Ranjang itu sengaja tak kutempati karena aku tak lagi bersuami aku sendiri aku tak pantas menempati tanpa suami tapi tiba-tiba ranjang itu ada yang mengisi seakan dia mengisi apa yang sedang aku tinggali. Aku bertanya siapa yang meniduri ranjangku tapi tak satupun yang tahu semua membisu hanya tidak ingin memberitahu apakah ranjang itu akan selalu aku biarkan begitu ranjang itu adalah malam pertamaku, aku tidak ingin ada malam pertama yang lain selain malam pertamaku.



Jakarta, 27 Februari 2011

Ilustrasi foto : google image

BERTERANG-TERANG DALAM GELAP

nikmatilah gelap
agar mudah merasakan
terang

***

tetaplah merasa terang
sekalipun dalam
kegelapan

***

dalam gelap
akan mudah melihat
cahaya terang

***

tidaklah kita tahu
terang kalau
tidak merasakan kegelapan

***

berterang-teranglah
dalam gelap dan
bergelap-gelaplah
dalam terang

_______________



Jakarta, 21April 2011

dari sudut kegelapan

KEKUASAAN

Ketika sebuah jabatan dimaknai sebagai sebuah kekuasaan, maka jabatan itu sudah menjadi pedang, yang akan menebas siapa saja yang menentang dan bertentangan.

Ketika sebuah jabatan dirasakan sebagai sebuah amanah, maka pengabdian dan ketulusan akan seiring sejalan dalam melaksanakan kewajiban.
Menuntaskan tanggung jawab adalah keharusan.

Ketika sebuah jabatan diterjemahkan sebagai pemegang wewenang, maka kesewenang-wenangan menjadi sebuah kebiasaan, dan mengabaikan artinya keberhasilan dari buah perjuangan bersama.

Ketika jabatan dimaknai sebagai alat penindasan, maka nafsu untuk menindas akan menguasai relung hati, hati menjadi mati begitu juga nurani.

Tetaplah jabatan diartikan sebagai sebuah titipan, yang harus demban sebagai amanah, yang pada akhirnya akan diminta pertanggung jawannya, baik didunia maupun diakhirat.


Bandung, 17 April 2011

Dari sudut Bandung Supermal