Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan

3 Cinta, Kiat Sukses Wirausaha Ala Habibie





“Bayangkan, dalam 10 tahun setelah menikah, saya bisa membeli rumah dengan halaman seluas 10 hektare. Tiga tahun kemudian, saya punya jet pribadi. Inilah sinergi positif yang lahir dari cinta,”

Menarik juga untuk disimak, kiat sukses Mantan Presiden BJ.Habibie dalam mencapai kesuksesan dalam berwirausaha. Ada 3 Unsur Cinta yang menjadi landasan filosofis, yang dianggapnya penting. Cintalah yang menjadi dasar utama dalam mencapai kesuksesan tersebut. Seperti yang dikatakanya, 3 Cinta tersebut adalah sebagai berikut :

1. Cinta kelompok pertama ialah mencintai sesama manusia. Dalam kelompok ini, ialah fase mambangun hubungan baik sesama manusia.

Mencintai sesama manusia adalah hal yang sangat penting dalam berwirausaha, karena dengan mencintai sesama manusia kita bisa saling menghargai, sehingga bisa membangun sinergi yang positif. Memperkerjakan manusia, tentunya kita harus menyayangi orang yang kita pekerjakan, dan memanusiakan mereka sesuai dengan kapasitasnya. (Ini menurut saya).

2. Cinta dalam kelompok dua ialah mencintai karya manusia. Pada fase ini, semangat kewirausahaan mulai muncul.

Habibie mengatakan, dengan mencintai karya manusia akan membuat masyarakat menjadi inovatif, sehingga bisa menciptakan pekerjaan, bukan mencari pekerjaan. Pernyataan ini sangatlah benar, dengan mencintai karya orang yang kita pekerjakan, maka akan memotivasi mereka untuk lebih mengembangkan krestivitasnya, dengan terus berkembang kreativitas mereka, maka akan sangat berpengaruh pada kemajuan usaha. Seperti yang dikatakan Habibie lebih lanjut, dalam kuliah umum program Wirausaha Muda Mandiri, Kamis (17/1/2013).

“Bank Mandiri memanfaatkan kelompok cinta nomor dua ini untuk menumbuhkan kewirausahaan melalui program Wirausaha Muda Mandiri,”

3. Cinta kategori ketiga ialah mencintai apa yang dikerjakan.

Cinta yang ketiga ini adalah hal yang juga penting, karena dengan mencintai apa yang kita kerjakan, maka semua dilakukan dengan rasa suka dan menyenangkan. Sesuatu yang dilakukan dengan rasa suka, maka tidak menjadi beban dalam melakukannya (ini menurut saya).

Itulah rahasia Habibie dan Ainun dalam membangun kehidupan dari nol di Jerman. Cinta, lanjutnya, membuat Habibie dan Ainun bisa berkembang dan sukses dalam karir dan kehidupan di Jerman yang persaingannya ketat.


Sumber tulisan :
http://m.bisnis.com/articles/bj-habibie-mau-sukses-wirausaha-cintai-3-hal-ini

"Di Timur Matahari," Obsesi pada Damainya Papua




Konsistensi pasangan suami isteri, Ari Sihasale (Ale)  dan Nia Zukarnain, yang juga merupakan pasangan Sutradara dan Produser, dalam menggarap film yang mengemas pesan Edukasi dan Nasionalisme,  patutlah diacungkan jempol. Disaat petinggi negeri ini disibukkan dengan berbagai permasalahan di papua, pasangan ini justeru melahirkan sebuah karya nyata tentang Obsesi mereka tentang betapa indah dan damainya Papua.
foto : www.21cineplex.com
foto : www.21cineplex.com
Sejak awal pasangan ini sangat concern mengangkat tema kemanusiaan dan pendidikan, dan menjual pesona keindahan Alam indonesia. Alam Papua selalu dikagumi pasangan ini, seperti pada produksi perdananya Alenia Pictures “Denias,” yang mengambil setting kehidupan dan peradaban di Papua, padahal sekarang ini Papua diberitakan sebagai daerah yang jauh dari rasa Aman.

Keberanian pasangan ini melawan arus komersialisasi dengan mengusung tema-tema pendidikan dan kemanusiaan patutlah diapresiasi. Sedikit sekali produser film Indonesia yang berani berspekulasi terhadap tema-tema seperti ini. Dengan investasi yang juga tidak kecil, tentunya idealisme diyakini mampu memberikan kepuasan melebihi keuntungan secara materi. Tapi pada kenyataannya film-film yang dibuat pasangan ini cukup mendapat apresiasi khalayak penonton film Indonesia.

Pada produksinya yang keenam ini, Rumah produksi Alenia Pictures, kini kembali mengangkat pola kehidupan di wilayah Papua lewat film terbarunya yang berjudul “Di Timur Matahari.” Film tersebut menceritakan tentang pentingnya arti pendidikan dan kedamaian untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Seperti diketahui, Alenia Pictures pernah memiliki pengalaman melakukan syuting di Papua pada tahun 2006 lewat film yang berjudul Denias. Namun, Ari Sihasale dan Nia Sihasale Zulkarnaen selaku produser menyatakan, kalau film Di Timur Matahari memiliki pesan yang berbeda yaitu perdamaian.

“Kita kembali ke Papua untu membawa pesan damai. Papua juga Indonesia dan mereka juga cinta damai. Kalau ingin tahu tentang Papua ya kita harus kesana, ini adalah usaha kita untuk memotret kehidupan disana. Kalau bukan kita, bukan sekarang, ya kapan lagi,” ujar Nia Sihasale Zulkarnaen saat jumpa pers film Di Timur Matahari di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan. (11/6).

Obsesi tentang perdamaian di Papua yang dituangkan Ale dan Nia kedalam media Gambar bergerak ini tentunya merupakan sebuah harapan, yang juga bukan hanya harapan Ale dan Nia, tapi juga harapan kita semua. gejolak di papua akhir-akhir ini sama sekali tidak digambarkan oleh Ale dan Nia. Ale dan Nia hanya ingin memperlihatkan betapa Indahnya Alam Papua yang merupakan bagian dari keindahan Alam Indonesia. Pesan film ini mestinya menyadarkan para petinggi negeri ini, betapa pentingnya menjaga perdamaian dan kedamaian di Papua.

Film yang mengambil lokasi di distrik Tiom, Kabupaten Lanny Jaya, Papua ini, sengaja dibuat sebagai layar lebar keluarga untuk mengisi masa liburan sekolah. Meskipun film tersebut aman untuk ditonton anak-anak, Ari Sihasale menyarankan agar mereka tetap mendapat bimbingan dari para orang tua.

Kata “Di Timur Matahari ” ini saja sudah sarat dengan pesan tentang secercah harapan terbitnya Matahari di Timur Indonesia, yang berharap Di Timur ini akan terbit perdamaian dan kedamaian untuk menyonsong masa depan wilayah Timur Indonesia yang berkemajuan, dan tidak lagi menjadi negeri yang tertinggal.


Film "Lewat Jam Malam" selesai di Restorasi



Film “Lewat Jam Malam” ini sudah diputar terlebih dahulu di Festival Film Cannes, Perancis pada 17 Mei lalu. Film tersebut terpilih dalam kategori World Classic Cinema.(Kompas)

Sebuah karya besar Sineas Besar Indonesia, H.Usmar Ismail, “Lewat Jam Malam” yang dibintangi aktor AN Alcaf dan Netty Herawati, telah berhasil di Restorasi. Film yang masih berwarna Hitam Putih ini termasuk salah satu karya Masterpiece Usmar Ismail.
foto : kabarindo.com
foto : kabarindo.com

i
Film Lewat Jam Malam ini di restorasi di Italia selama 1,5 tahun, film ini diproduksi tahun 1954 yang disutradarai dan diproduseri oleh H.Usmar Ismail, sebagai produser Usmar Ismail bekerjasama dengan Djamaluddin Malik, ayah dari artis Camelia Malik. Film ini bernuansa kisah perjuangan, yang bercerita tentang seorang mantan pejuang (AN Alcaf) yang kembali kemasyarakat yang sudah asing baginya.

Alex Sihar dari Komite Film Dewan Kesenian Jakarta yang juga Ketua Yayasan Konfiden, mengatakan restorasi film Lewat Jam Malam diharapkan bisa membuka mata banyak pihak tentang pentingnya arsip film bagi sejarah bangsa. Restorasi yang seharusnya dibiayai oleh Pemerintah cq kementerian kebudayaan, tapi nyatanya dibiayai oleh Nation Museum of Singapore dan World Cinema Foundation yang didirikan oleh sineas dunia Martin Scorsese.
Ternyata orang lain lebih peduli terhadap karya bangsa kita ketimbang bangsa kita sendiri.

 Kurangnya perhatian pemerintah terhadap arsif film nasional dan karya film nasional sebagai produk budaya, membuat prihatin para pemerhati film nasional. Almarhum Misbach Yusabiran, adalah salah satu orang yang mempunyai inisiatif untuk menyimpan dan mengarsip film nasional, lewat lembaga yang dikelolanya “Sinematek.”

Seorang pemerhati dan kritikus film, Totot Indarto mengatakan, Restorasi film yang dilakukan pihak asing menunjukkan bahwa Indonesia teledor terhadap kearsipan film yang merekam jejak kebudayaan bangsa. (Kompas,selasa, 5/6/2012).

Memang betul apa yang dikatakan Totot, karya film adalah merupakan rekam jejak budaya, karena setiap karya film yang dibuat pastinya memuat unsur budaya dan kondisi budaya dan menggambarkan situasi saat film tersebut dibuat. Rekaman itulah yang merupakan imformasi yang sangat berharga, yang merupakan jejak sejarah dan budaya.

Film Leawat Jam Malam ini rencananya akan diputar di bioskop 21 Cineplex mulai 21 Juni dan di Blitzmegaplex di beberapa kota di Indonesia. Pemutaran film ini sangat diharapkan dapat menarik minat publik terhadap pelestarian artefak film yang tersimpan di Pusat 

Imformasi dan Dokumentasi Film Indonesia. Semoga saja nantinya pemerintah mempunyai perhatian terhadap dokumentasi Film Indonesia, dan mau membiayai restorasi film karya sineas Indonesia masa lalu.