SBY, Tangis Anak Indonesia dan Rakornas PD (Headlines)


Sangat pantas Anak Indonesia bersedih, Puncak Peringatan Hari Anak Nasional (HAN), tanggal 23 Juli 2011 hari ini harusnya dihadiri Presiden RI Susislo Bambang Yudhoyono, tapi berhubung SBY harus menghadiri Rakornas Partai Demokrat yang juga dilaksanakan hari ini di Sentul, Jawa Barat, maka SBY lebih memilih menghadiri Rakornas PD, ketimbang Menghadiri Puncak Peringatan HAN. Hal yang menyebabkan Anak Indoensia harus menangis, Deklarasi Anak Indonesia yang harusnya dibacakan didepan SBY kembali di tolak, seperti halnya tahun lalu.

Celah buruk yang mengundang perhatian masyarakat seperti ini selalu diperlihatkan oleh SBY, sadar ataupun tidak, hal seperti ini akan terus memperburuk citranya, sangat mengagungkan pencitraan tapi tidak mampu menjaga citra yang sudah dia bangun sendiri. Kemelut yang terjadi di Partai Demokrat menjadi titik fokus perhatiannya, sehingga mengabaikan keinginan sekian juta Anak Indonesia yang berharap dapat bertatap muka dengannya, yang ingin bercerita tentang harapan-harapan mereka dimasa depan, ingin mengatakan apa yang menjadi keinginan mereka dan apa yang mereka khawatirkan sesungguhnya sekarang ini. Sebagai seorang Kepala Negara, adalah wajar jika SBY berkenan mendengarkan apa yang ingin mereka katakan.

Mungkin hari ini SBY tidak bisa menjumpai mereka, tapi tidak ada salahnya di lain waktu SBY mengundang anak-anak tersebut ke Istana Negara untuk sekedar bertatap muka dan memberikan kesempatan pada anak-anak indonesia bercerita tentang harapan-harapan mereka. Dengan mengabaikan begitu saja keinginan mereka adalah sebuah sikap yang kurang bijak bagi seorang Kepala Negara. Anak-anak itu adalah anak-anak Indonesia, anak masa depan dan generasi penerus bangsa.

Menyelesaikan kemelut yang terjadi di Partai Demokrat dengan memberikan perhatian penuh terhadap kemelut tersebut tidaklah menyelesaikan persoalan Bangsa karena kemelut tersebut hanyalah persoalan internal, bukanlah bagian dari persoalan bangsa saat ini. Persoalan mental personal kader partai tidaklah harus menyita penuh perhatian Presiden karena banyak persolan yang lebih besar harus diselesaikanyang sama sekali tidak terkain dengan persoalan internal partai. Kalau memilah mana persoalan yang harus ditangani seorang Presiden dan mana yang tidak saja masih sulit dilakukan, bagaimana mungkin bisa menyelesaikan persoalan bangsa ini kedepan.

Puncak peringatan Hari Anak Nasional, harusnya dijadikan momentum sebagai pertemuan seorang Bapak Nasional dengan generasi penerus calon pemimpin bangsa di masa depan, merupakan pertemuan sejarah yang cukup penting di akhir masa jabatan SBY. Mengabaikan pertemuan tersebut sama halnya dengan mengabaikan harapan Anak-anak Indonesia. Sebagai seorang Negarawan, momen seperti ini adalah lebih penting dari sekedar menghadiri urusan partai.

Anak-anak Indonesia yang tersisihkan. Sangat jauh dari perhatian tapi tetaplah dicintai sang pengelola kehidupan. Hidup tanpa beban tujuan hidup hanyalah mencari makan. Kehidupan jalanan yang keras mengajarkan mereka memenangkan pertarungan. Hidup dan mati bukanlah sesuatu yang perlu di pikirkan. Hanya meyambung dan melanjutkan kehidupan yang menjadi pikiran.

Anak-anak Indonesia adalah anak masa depan yang harus kita pikirkan. Cukup sandang dan pangan mereka adalah tugas dan kewajiban kita sekalian. Karena mereka anak-anak Indonesia yang bukan hanya sekedar perlu di kasih makan. Mereka juga perlu pendidikan dan kelangsungan masa depan. Jangan tutup mata dan telinga untuk menatap dan mendengar penderitaan. Karena derita mereka adalah derita kita sekalian.(Ajinatha)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar