SMS itu Hampir Membunuhku

Sumber foto :uniqpost.com



Sejak ada telepon seluler (HP), komunikasi pun terasa semakin lancar, apalagi dengan adanya fasilitas Blackberry Messengger (BBM), sehingga komunikasi secara bertelepon langsung pun agak berkurang kalau tidaklah terlalu penting. Namun harus juga tahu tempat dan waktu saat ber-SMS dan BBM-an.

Larangan menggunakan HP saat mengendarai kendaraan adalah bentuk dari upaya menghindari bahaya dari kecelakaan, apa lagi saat mengendarai motor. Banyak kecelakaan terjadi karena karena pengendara motor ber-SMS-an saat mengendarai, bahkan juga dialami oleh pengendara mobil.

Saya punya pengalaman hampir celaka gara-gara ber-SMS-an, saat sedang melintas di jalan Tol Jagorawi tiba-tiba HP dikantong celana bergetar, secara reflek saya mencoba untuk merogoh kantong yang agak sempit, apa lagi saat itu saya sedang melintas di jalur kiri, jadi kecepatannya pun tidaklah kencang. Begitu sedang membaca SMS yang masuk, saya tidak sadar kalau jarak mobil saya sudah hampir dekat dengan Truk, saya langsung injak rem dan memarkirkan kebahu kiri jalan.

Sejak kejadian itu kalau sedang menyetir saya tidak pernah lagi mau menggunakan HP, baik untuk bertelepon mau pun SMS-an, pengalaman itu betul-betul membuat saya trauma menggunakan HP saat menyetir mobil, bahkan terhadap sopir pun saya peringatkan agar tidak menerima telepon saat mengendarai mobil.

Banyak sekali dampak buruknya menggunakan HP saat mengendarai kendaraan, orang lain juga terganggu, karena saat menggunakan HP sambil mengendarai, otomatis kita akan menguragi kecepatan, dengan demikian kendaraan yang ada dibelakang kita pun ikut mengurangi kecepatannya, apa lagi hal itu jika terjadi dijalur cepat. Masih banyak kita jumpai orang-orang yang menggunakan HP sambil mengendarai kendaraan, bahkan dengan sangat cueknya, seakan-akan jalan raya itu adalah miliknya pribadi.

Berikut ini ada beberapa Tips yang mungkin bisa bermanfaat:
- Letakkan selalu ponsel di tempat yang mudah dijangkau.
- Saat berkendara motor atau mobil, hentikan dulu jika ada pesan masuk yang dirasa memang penting. Jangan sekali-sekali menganggap remeh aktivitas berkendara, sehingga bisa diselingi membaca dan mengirim pesan, sebab sangat berbahaya bagi anda sendiri maupun pengguna jalan lain.
- Matikan ponsel saat sedang melakukan aktivitas yang membutuhkan perhatian penuh. Tidak jarang banyak kecelakaan terjadi akibat seseorang terganggu konsentrasinya sambil menggunakan HP.
- Lebih baik matikan ponsel. Saat kita sedang mengendarai kendaraan, atau di Silent nada deringnya agar tidak mengganggu konsentrasi saat mengendara.

"Kepadamu Malala Yousafzai"

Sumber foto : returnofking.com




Engkau matahari masa depan Pakistan
engkau pewaris keberanian Bhuto
diusia yang masih muda
bukan hanya Taliban yang terpana
Seluruh penjuru dunia pun membuka mata
.
Betapa perjuanganmu tidak semata untuk anak-anak Pakistan
pun untuk anak-anak yang kehilangan hak
tuk mendapatkan pendidikan disantero dunia
lantang sekali pidato-pidatomu
bicaramu sangat dewasa, juga pikiran-pikiranmu
.
Aku yang tua merasa kalah dewasa
karena engkau berpikir bukan untukmu
engkau memikirkan nasib kaummu
juga nasib negara dan bangsamu
yang sudah dikacaukan keegoan para Taliban
.
Aku malu padamu malala
karena diusia yang tua, aku belum berbuat apa-apa
penindasan hak, bagimu adalah cambuk
yang menghentakkan suaramu agar didengar dunia
Kini dunia ingin merengkuhmu
karena engkau anak titipan masa depan
.
Sungguh aku meyakini
engkau adalah matahari masadepan
tidak hanya bagi rakyat Pakistan
engkau tumpuan harapan
bagi bangsa yang kehilangan masadepan
.
Lantang suaramu akan menerobos segala penghalang
betapa Taliban pun akan tunggang langgang
Malala Yousafzai..adalah matahari
adalah pohon-pohon yang akan meneduhkan
adalah segara yang akan senantiasa memberikan
kesejukan bagi rakyat pakistan..
……
Jakarta, Ramadhan 2013
Salam Perjuangan dan Kemerdekaan

"jihad"

14124983461758945130

“JIHAD”


Seorang laki-laki muda tuna karya yang sudah berkeluarga, dia menjadi seorang suami dan ayah dari dua anaknya, gundah gulana dalam keseharian tanpa pekerjaan. Bisa dibilang belum siap untuk berkeluarga, tapi Tuhan menitipkan keturunan sebagai pertanda Tuhan tahu kalau dia punya kemampuan, dalam kesehariannya diisi dengan mengaji disebuah perguruan, tapi sayangnya pengajian yang diikutinya tidaklah semakin mempertebal keyakinannya akan kekuasaan dan kebeseran Tuhan, dia hanya mengerti tentang hal yang haram dan yang halal, yang kafir dan yang beriman.
Puncak dari segala kegalauannya dia memutuskan ingin pergi berjihad ke Afganistan, yang dia tahu dengan berjihad untuk membela kepentingan agama dia akan mati syahid, dan menjadi seorang suhada. Itulah segelintir pengetahuan yang tertanam dalam benaknya, padahal amanat Allah swt yang dipikulkan dipundaknya berupa Isteri dan dua anak, adalah juga kehidupan yang sangat perlu dia perjuangkannya tanpa perlu mengabaikan kepentingan lain yang sama pentingnya untuk diperjuangkan.
Sebut saja namanya Kasbul, sosok yang sangat berpenampilan alim dan sangat pendiam, yang kurang senang berbagi masalah dengan orang lain, sehingga membuatnya menjadi pribadi yang sangat tertutup. Suatu hari dia mengemukan niatnya tersebut kepada isterinya,
“Buk..aku mau berangkat ke afganistan..aku ingin berjuang dijalan Allah swt..demi agama yang aku cintai..”
“Aku sih senang kalau bapak mau berjuang membela agama Allah..tapi nasib aku dan anak-anak siapa yang pikirkan pak…”
“Ibu gak usah kuatir..biarlah itu menjadi tanggung jawab Allah..bukankah dia Maha Tahu dan Maha Melihat..”
“Ya gak bisa begitu pak..justeru Allah itu maha Tahu kalau bapak itu sebetulnya mampu menghidupi aku dan anak-anak..kalau gak begitu gak mungkin Allah berikan kita anak-anak..”
Pertengkaran suami isteri tersebut tidak menemui penyelesaiannya, dan peretengkaran itu akhirnya mengundang pertanyaan ayah Kasbul,
“Ada apa ini ribut-ribut Kasbul…”
“Ini pak..isteriku tidak mengijinkan aku untuk berjihad dijalan Allah ke Afganistan..”
“Alasan dia tidak mengijinkan apa..”
“Ya katanya kalau aku ke Afganistan hidup dia dan anak-anak siapa yang menanggung..”
“Benar itu isteri kamu..karena isteri kamu dan anak-anak adalah tanggung jawabmu..bukan tanggung jawab ayah atau orang lain..sekarang ayah mau tanya..kamu mau berjihad itu karena ingin melarikan diri dari tanggung jawab keluarga atau memang ingin berjihad di Jalan Allah..”
“Ya jelas ingin berjihad dijalan Allah..masak ingin melarikan diri dari tanggung jawab keluarga..”
“Baiklah…kalau kamu benar-benar ingin berjihad dijalan Allah mulai besok kamu cari pekerjaan..apa pun pekerjaannya yang penting kamu bekerja untuk menghidupi isteri dan anak-anakmu..setahu ayah itu sama nilainya dengan kamu jihad ke afganistan..”
“Tapi yah…aku bisa bekerja apa dengan situasi sekarang ini..”
“Apa pun bul…yang penting halal..niat semata karena ingin mengemban amanah Allah yang sudah dititipkannya..mungkin kamu bisa menjadi guru mengaji..atau juga mendidik anak-anak kampung yang kurang beruntung..Insha Allah dilapangkan dan dimudahkan-Nya usaha kamu..dan itulah amal yang lebih bermanfaat..”
Jawaban ayahnya sangat menohok hati kasbul..dia merasa ayahnya tahu kalau niatnya berjihad ke Afganistan hanyalah lahir dari segala kebuntuan pikiran dan beban serta tanggung jawab yang sedang dihadapinya, sehingga semua kebuntuan tersebut menginspirasikannya untuk lari dari tanggung jawab dan Amanah Allah swt yang sudah dititipkan kepadanya, hanya saja dia tidak frustasi lalu bunuh diri..dia pikir mati di Afganistan dengan situasi seperti itu dia akan menjadi Syuhada..dan lebih terhormat dari pada bunuh diri.
Photo illustrasi sumber : www.frontpagemag.com

"Hukum dimata Tuan"

illustrasi : rotualilis.blogspot.com


"HUKUM DIMATA TUAN"
Hukum bagi Tuan seperti mainan
hari ini Tuan katakan hukum Tajam kebawah
Tumpul keatas..
Kemarin Tuan mati-matian mencampuri hukum
agar tumpul keatas..agar anak tuan tidak menjadi terdakwa..
Tuan katakan tidak ada diskriminasi hukum
hukum berlaku untuk semua...tapi tidak berlaku bagi anak Tuan
Hukum dimata Tuan seperti mainan
ketika ada keinginan Tuan menebar berbagai rayuan
menebar berbagai keberpihakan bagi rakyat
setelahnya Tuan lupa..
Tuan menjadi lupa karena ingin berkuasa
Tuan tidak ingat dosa karena Tuan sedang berkuasa
Dimimbar..Tuan seketika seakan Malaikat penolong
yang akan menyelematkan bangsa..
tapi Tuan lupa..kalau rakyat selalu ingat dosa-dosa Tuan..
Jakarta, Juni 2014

Mencari "Seorang Presiden"



Urusan mencari figur Seorang Presiden memang adalah menjadi sesuatu yang sangat penting, ketika sosok figur yang sesuai dengan persefsi ideal yang memenuhi kriteria umum semakin sulit ditemukan, meskipun semua kriteria itu sangat relatif. Hal ini menjadi penting dikarenakan Partai Politik tidak berfungsi dalam melakukan regenerasi kepemimpinan, sehingga kader Politik yang mumpuni, yang memenuhi harapan tidak muncul kepermukaan, akibatnya dalam suksesi kepemimpinan yang muncul masih muka-muka lama.

Akan menjadi tidak sulit kalau saja Partai Politik Lebih mengedepankan kepentingan bangsa dan negara ketimbang kepentingan Politik Partai. Pada realitas yang ada, kepentingan partai diatas kepentingan bangsa dan negara, sehingga apa yang menjadi harapan masyarakat terabaikan begitu saja. Mungkin pemikiran seperti ini bisa dianggap Naif, atau bahkan kuno, meskipun sejatinya memang harus demikian keharusan berpikirnya.

Dalam situasi seperti sekarang ini sangat dituntut kecerdasan dan kepekaan intuisi untuk melihat secara cerdas, dari semua figur yang muncul sebagai Capres, mana diantaranya yang benar-benar ingin memperbaiki keadaan dan mana yang cuma berambisi untuk berkuasa. Rekam Jejak seorang Capres pun menjadi sangat penting diketahui, apakah dia tipikal pemimpin yang baik atau menjadi baik ketika setelah men-capreskan diri.

Untuk menilai seseorang itu baik atau tidaknya tidaklah didasarkan kedekatan persoanal, tapi lebih kepada penilaian baik dalam takaran universal, yang memenuhi standar baik secara moral maupun emosional. Dari rekam jejaknya tentu kita bisa mengambil penilaian yang objektif, yang bukan didasarkan oleh rasa suka yang bersifat emosional.

Mencari figur seorang Presiden bukanlah dinilai pintarnya dia berpidato, pintarnya dia berdebat, tapi seberapa hebat dia mau berpikir dan bekerja demi untuk kepentingan rakyat. Dinegeri ini sudah sangat banyak orang yang pandai berpidato dan berdebat, sehingga mereka lupa bagaimana seharusnya bekerja untuk kepentingan rakyat, kita jangan terlena dengan berbagai kemasan, cukuplah Selama ini kita sudah ditipu oleh berbagai kemasan, sejarah harus dijadikan pelajaran agar kita tidak lagi mengulangi kesalahan.


Megawati Sudah Habis Masanya

foto : Tribunews.com


Megawati harus mengubur ambisinya untuk menjadi Presiden RI yang kedua kali, niat itu harus segera ia urungkan. Megawati harus pandai melihat arah angin, sekarang ini masa bagi Megawati itu sudah habis, sudah bisa diprediksi jika PDI-P tetap mencalonkan Megawati jadi Presiden pada Pemilu 2014 nanti, meski pun dipasangkan dengan Jokowi, maka itu artinya Megawati semakin membuka peluang bagi lawan politiknya untuk menang.

Kalau pun PDI-P tidak jadi mengusung Jokowi untuk menjadi Presiden, itu bukan berarti Megawati yang harus dicalonkan. Sebaiknya Megawati memfokuskan diri untuk membuat regenerasi kepemimpinan, selama ini sudah terbukti PDI-P mampu menyiapan pemimpin yang berkualitas, jujur dan bersih dari kasus korupsi, seperti misalnya Jokowi, Tri Rismaharini dan Ganjar Pranowo.

Ilustrasi/ Admin (Politicawave.com)


Boleh jadi Pemilu 2014 ini bukanlah milik PDI-P, tapi dapat dipastikan pada Pemilu 2019 akan menjadi milik PDI-P, karena PDI-P sudah mempunyai Tiga Jagoan tersebut yang bisa diunggulkan untuk menempati posisi RI 1 dan RI 2. Alangkah bijaksananya jika Megawati justeru berupaya untuk menyokong Prabowo dalam Pemilu 2014, dengan sebuah kesepakatan tentunya, bahwa Prabowo hanya memimpin untuk satu periode.
Kalau seandainya PDI-P tetap ngotot mencalonkan Megawati sebagai Presiden, maka PDI-P akan kehilangan simpati dari para pendukung Jokowi, dan hal ini akan berimbas pada turunnya kepercayaan publik terhadap PDI-P, dan juga akan berakibat besar pada dukungan masyarakat terhadap kepemimpinan Jokowi di DKI Jakarta.

Sangat bisa dimengerti kenapa PDI-P tidak buru-buru mengeluarkan pernyataan tentang siapa yanh akan dicalonkan PDI-P pada Pemilu 2014 ini, untuk sebuah strategi itu sah saja. Memang sangat dikhawatirkan jika Capres PDI-P segera diumumkan malah akan menjadi sasaran tembak lawan politiknya. Lihat saja, padahal Jokowi belumlah dinyatakan sebagai Capres PDI-P, serangan bertubi-tubi sudah dihadapi Jokowi.

Kalau seandainya PDI-P tetap berambisi untuk memenangkan Pemilu 2014, dan juga merebut kursi RI 1, PDI-P harus mencalonkan Jokowi bukanlah Megawati, sekali lagi saya katakan Megawati sudah habis masanya, Megawati mendingan anteng-anteng saja menjadi Ketua Umum PDI-Perjuangan, sambil terus menyiapkan penggantinya. 
Memberikan peluang kepada generasi penerus jauh lebih baik dari pada terus mempertahankan kekuasaan politik yang menciptakan Hirarki Dinasti.

Megawati sudah pernah membuktikan bahwa Trah Soekarno ada yang menjadi Presiden, meski pun kepemimpinannya tidaklah seperti Soekarno, karena harus diakui meakipun Megawati anak Soekarno, tapi Megawati tetaplah Megawati yang tidak bisa melebihi kepemimpinan Soekarno, jangankan melebihi, untuk setara dengan kepemimpinan Soekarno pun Megawati belum bisa. Jadi Megawti harus ikhlas kali ini mengubur ambisinya untuk menjadi Preaiden RI untuk yang kedua kali.

Inilah Alasan Australia Menyadap SBY dan Ani Yudhoyono



Merdeka.com - Berita soal penyadapan yang dilakukan intelijen Australia masih terus berlanjut. Harian The Australian kini membeberkan alasan aksi mata-mata terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Ibu Negara Ani Yudhoyono .

Hanya berselang tiga hari sebelum berlangsungnya kampanye di Australia, kabel diplomatik berstempel 'rahasia' dikirimkan dari Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Jakarta kepada diplomat AS di Canberra dan CIA. Kabel ini membicarakan dinamika baru peta politik Indonesia.

Para intelijen ini meyakini ada pemain yang menjadi penasehat penting bagi SBY. Orang tersebut bukan wakil presiden, bukan pula menteri dalam kabinet SBY, tapi istrinya sendiri, Ani Yudhoyono .

"Keberadaan Kristiani Herawati telah mengorbankan penasehat kunci lainnya. Ibu negara diduga telah memanfaatkan akses kepada presiden untuk membantu teman-temannya dan menjatuhkan lawannya, termasuk Wakil Presiden (Jusuf) Kalla," tulis kabel tersebut, Minggu (15/12), seperti dikutip dari The Australian.

Informasi tersebut membuat Direktorat Pertahanan Signal dan mata-mata lain yang bertempat di Canberra ingin mengetahui lebih jauh dinamika baru itu. Mereka menilai Ibu Ani memainkan peran untuk membangun dinasti keluarga dengan memasang Agus Harimurti Yudhoyono sebagai presiden selanjutnya.

Tak hanya itu, sumber di Wikileaks juga menyebutkan Ani Yudhoyono adalah satu-satunya orang yang mendapat kepercayaan penuh dari presiden dalam menghadapi setiap isu. "Ibu Ani adalah satu-satunya orang yang Presiden benar-benar bisa percaya pada setiap masalah dan sebagai presiden jalan untuk menuju paruh kedua masa jabatannya, ia semakin bergerak di berbaris dengan istrinya," ungkap Wikileaks.

Harian The Australian juga menyebutkan, Ani sangat berambisi untuk menempatkan Agus Harimurti dan menjadikan ibu negara sebagai capres 2014. Jabatan itu dilakukan sampai putranya mencapai usia yang cukup sampai dapat dipilih menjadi presiden pada Pemilu 2019.
[tyo]

Istimewanya Boediono Dihadapan KPK

foto : tribunnews.com


 Kenapa KPK secara diam-diam melakukan pemeriksaan terhadap Wapres Boediono, terkait sebagai saksi Kasus Bank Century, pada hari ini,Sabtu (23/11/2013), dan pemeriksaan pun dilakukan di Kantor Istana Wakil Presiden bukanlah di Kantor KPK. Apakah memang ada perlakuan khusus dalam terhadap seorang Wakil Presiden, bukankah Abraham Samad selalu mengatakan, dihadapan hukum hak semua orang sama. ? 

Pemeriksaan terhadap Boediono ini dianggap tidaklah lazim, karena tidak dilakukan dikantor KPK tapi di Kantor Wakil Presiden. Politisi Partai Golkar yang juga merupakan Timwas Kasus Century, Bambang Soesatyo (BS) mengetahui kalau Penyidik KPK diam-diam melakukan pemeriksaan terhadap Boediono di Kantor Wakil Presiden, terhadap hal tersebut BS mempertanyakan perlakuan KPK terhadap Wapres Boediono yang terkesan diskriminatif.

 Seperti yang katakannya pada TribunNews.com:

 “Sebagai anggota Timwas Kasus Century, saya berpendapat pemeriksaan Boediono oleh KPK di kantor Istana Wapres hari ini,  menimbulkan tanda tanya dan diskriminasi. Sehingga semakin menguatkan kesan publik bahwa KPK mengistimewakan Boediono. Padahal, setiap warga negara sama kedudukannya di hadapan hukum,” sindir Bambang Soesatyo.

 Sementara itu dalam konfrensi Persnya dengan para pewarta media kemarin (23/11/13) malam, Wapres Boediono memberikan alasan, pemeriksaan terhadapnya oleh KPK tidak dilakukan di Gedung KPK dikarenakan standar protokoler Wakil Presiden, yang menyangkut sterilisasi gedung tempat pemeriksaan, hal ini akan sangat mengganggu kegiatan digedung KPK, maka dari itu pemeriksaan dilakukan di Kantor Wakil Presiden.

 “Ini protokoler kenegaraan, sebelumnya harus ada sterilisasi dulu dan nanti sangat mengganggu,” kata Boediono kepada wartawan dalam keterangan pers di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Sabtu (23/11/2013) malam.(Kompas.com)

 Terkait pemeriksaan terhadap Wakil Presiden Boediono ini, Juru Bicara KPK Johan Budi saat dikonfirmasi media mengatakan, secara resmi para pimpinan KPK akan memberikan penjelasan pada hari Senin (25/11/13). Apakah KPK juga akan menjelaskan kenapa pemeriksaan terhadap Boediono dilakukan diam-diam,? Semoga saja demikian, agar semua menjadi jelas dan tidak menimbulkan berbagai tanda tanya. 

Memanglah sesuatu yang tidak lazim bisa saja menjadi lazim, begitu juga sebaliknya, sesuatu yang lazim pun bisa menjadi tidak lazim kalau bagi kekuasaan, padahal seharusnya dihadapan hukum hal seperti ini tidaklah berlaku, begitulah semestinya hukum harus ditegakkan.

Jadi Capres pun Jokowi "Belum" Pantas

Illustrasi: politik/kompasiana


Adanya wacana ingin menyandingkan Jokowi dengan Ical yang dikemukan oleh petinggi Golkar Agung Laksono, dan ada juga keinginan Amien Rais untuk memasang Jokowi dengan Capres Partai Amanat Nasional (PAN), Hatta Rajasa, saya menganggap wacana tersebut bukanlah hal yang serius, melainkan hanya olok-olok pokitik. Olok-olok politik ini dimunculkan karena semakin tingginya tingkat elektabilitas Jokowi di Bursa Capres 2014.

 Kenapa saya menganggap sebagai olok-olok politik, karena dengan menempatkan Jokowi sebagai Cawapres Ical atau Cawapres Hatta Rajasa, secara politis mereka ingin mengatakan Jokowi baru pantas dilevel Cawapres, meskipun elektabilitas Jokowi sebagai Capres ada diperingkat teratas. Saya yakin, dalam menanggapi wacana ini Jokowi hanya tersenyum, karena memang dia tidak pernah sibuk dengan urusan pencapresan ini.

 Masyarakat pun akan menanggapi wacana ini secara negatif, sekalipun nantinya wacana ini akan berubah menempatkan Jokowi sebagai Capres dan Ical atau Hatta sebagai Cawapres, meskipun wacana ini lebih patut dipertimbangkan, tetap saja akan mendapat respon negatif dari publik, karena jelas publik tidak menginginkan Jokowi disandingkan dengan Ical atau pun Hatta, karena track record kedua tokoh ini tidak patut disandingkan dengan Jokowi.

 Jokowi tidaklah pantas ditempatkan sebagai Cawapres, bahkan menurut saya Jokowi tidak pantas Nayapres di Pilpres 2014 nanti, bertarung dibursa Capres dengan kandidat Capres yang ada saat ini, biarkan dulu generasi Wiranto, Prabowo, Megawati, Ical, Hatta bertarung di Pilpres 2014 nanti, karena kalau Jokowi Nyapres maka akan mendapat respon negatif dari masyarakat.

Ada baiknya Jokowi Nyapres di 2019 nanti, karena dengan memyelesaikan tanggung jawabnya selama satu periode, maka Ketokohan Jokowi akan semakin terlihat dengan nyata, saat Jokowi maju menjadi Capres di 2019, Jokowi akan menghadapi lawan yang lebih seimbang.

 Jadi kalau ada wacana menempatkan Jokowi pada posisi Cawapres, itu hanyalah olok-olok politik, jangankan untuk menjadi Cawapres, untuk menjadi Capres aja di 2014, Jokowi belum perlu, karena lawan yang ada dibursa capres bukanlah lawan yang seimbang bagi Jokowi, kalau Jokowi maju Nyapres sekarang ini, maka kandidat capres lainnya jangan berharap akan menang, asumsi tersebut bukan hanya berdasarkan tingginya tingkat elektabilitas Jokowi saat ini, tapi karena calon-calon yang maju sekarang ini hampir rata-rata bukanlah Calon yang memang diharapkan masyarakat pada umumnya.

Masyarakat saat ini hanya menginginkan Jokowi menjadi Presiden, tapi tentunya hal ini menjadi sangat dilematis bagi Jokowi, tapi secara konsekwen, harusnya Jokowi selesaikan terlebih dahulu satunperiode Jabatannya, setelah itu barulah masuk di Bursa Capres 2019, dengan demikian masyarakat tidak bisa lagi mencari kelemahan dan kesalahan Jokowi.